Tampilkan postingan dengan label Risalah Balasan Dan Ganjaran Setimpal 11-20. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Risalah Balasan Dan Ganjaran Setimpal 11-20. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Maret 2015

Gan Ying Pian Bgn 20 Cerita



Risalah Balasan Dan Ganjaran Setimpal
Bagian 20 ~ Cerita

yǒu





Cerita 1 :
Pada masa Dinasti Song terdapat dua bersaudara yang bernama Zheng De-gui dan Zheng De-zhang, mereka memiliki sifat yang amat berbakti dan menyayangi saudaranya. Mereka belajar dan tidur bersama. Namun sayangnya De-zhang memiliki kekurangan yakni kurang harmonis dengan orang lain, sehingga berselisih dengan Keluarga Zhou; Keluarga Zhou berencana mencelakai De-zhang, sehingga dijatuhi hukuman mati oleh pengadilan, prajurit segera akan mendatangi rumah mereka untuk menangkap De-zhang.

De-gui yang mengetahui bahwa adiknya dicelakai orang lain, merasa amat bersedih, lalu berpura-pura berkata pada adiknya : "Mereka sebenarnya hendak mencelakai diriku, tidak ada hubungannya denganmu! Asalkan saya menyerahkan diri ke pengadilan, maka kebenaran akan segera terungkap; jika kamu pergi menyerahkan diri ke pengadilan, maka kamu pasti akan mati!".

Selesai berkata, De-gui segera berjalan ke pengadilan untuk menyerahkan diri, De-zhang mengejarnya dari belakang, dua bersaudara di saat menghadapi jalan buntu, akhirnya keduanya saling berpelukan dan menangis tersedu-sedu; saling berebutan untuk menyerahkan diri ke pengadilan.

De-gui diam-diam memikirkan akal untuk menghadang jalan adiknya menuju ke pengadilan, saat malam larut dia pergi duluan ke pengadilan. Esok paginya De-zhang mendapati abangnya tidak di rumah, segera mengejar abangnya, dia mengejar hingga ke Guangling, namun pada saat itu De-gui sudah meninggal dunia di dalam penjara.   

De-zhang melihat jasad abangnya, hatinya hancur lebur hingga tidak sanggup menahan kesedihan dan jatuh pingsan hingga empat kali. De-zhang memperabukan jasad abangnya, lalu abu kremasi dibawa pulang dan dimakamkan; De-zhang menjalani masa perkabungan di samping makam abangnya selama beberapa tahun; setiap kali De-zhang bersedih hingga menangis tersedu-sedu, burung-burung akan berterbangan ke sisi De-zhang, selain menangis, dia juga tidak makan. Putra De-gui yang masih berusia kecil, kini dibesarkan oleh De-zhang, kasih sayang yang dicurahkan tak bedanya dengan anak kandung sendiri.


Cerita 2 :
Pada masa Dinasti Qi Utara terdapat seorang yang bernama Pu Ming, bersama saudaranya, mereka sering berebutan harta warisan hingga harus menjalani persidangan di pengadilan hingga bertahun-tahun, bahkan masing-masing pihak mengundang saksi untuk memberi bukti; kasus ini terbawa hingga ke tangan Gubernur Qinghe yang bernama Su Qiong.

Gubernur Su lalu mengundang Pu Ming bersaudara datang menghadap, lalu menasehati mereka : "Di dunia ini hal yang sulit diperoleh adalah jalinan persaudaraan! Dan yang paling mudah didapatkan adalah lahan pertanian; andaikata bisa mendapatkan lahan pertanian tetapi harus kehilangan saudara sendiri, apa yang akan anda rasakan?".

Sambil berkata, Gubernur Su mulai meneteskan air mata, saksi-saksi yang berada di samping melihatnya, juga jadi tergugah oleh air mata gubernur yang penuh ketulusan; Pu Ming bersaudara saling bersujud mengaku kesalahan masing-masing dan saling mengalah, takkan berebutan harta lagi. 


Cerita 3 :
Tuan Yu Tie-qiao bercerita : "Di tempat yang disebut Huaiyin ada seorang pejabat, memiliki dua putra yang sejak kecil sudah tidak akur, dalam setahun belum tentu dapat bertemu sekali. Kemudian abang menderita penyakit kritis, menyuruh orang untuk memanggil adiknya datang ke hadapannya, sambil menggandeng tangan adiknya, abang berkata : "Usia 19 tahun saya sudah menikah, saat muda juga tidak memperoleh kasih sayang dari istri, hingga usia 38 tahun, ayahbunda meninggal dunia; jadi usia senjaku tiada kasih sayang ayahbunda lagi, pada kehidupan ini yang dapat berada bersama untuk kurun waktu yang paling lama adalah saudara, yakni kita berdua abang dan adik, tetapi sepanjang hidup ini kita malah tidak akur, sekarang saya baru merasa menyesal, namun saya sudah berada di bagian paling ujung dari perjalanan hidupku!"


Cerita 4 :

Zhang Shi-xuan sejak kecil sudah yatim piatu; setelah dewasa, diantara para seniornya hanya tersisa pamannya seorang saja. Paman mempunyai tujuh putra, suatu hari paman berkata pada Zhang Shi-xuan : "Kini kamu sudah dewasa, saya harus membagi harta keluarga ini menjadi dua bagian, satu bagian untukmu dan satu bagian lagi untukku, bagaimana menurutmu apakah ini cukup adil?"

 Zhang Shi-xuan menjawab : "Paman, saya tidak tega melihat tujuh putramu harus membagi satu bagian harta menjadi tujuh bagian, paman boleh membagi harta tersebut menjadi delapan bagian!". Tetapi pamannya bersikeras membagi dua bagian saja, sedangkan Zhang Shi-xuan tetap bersikukuh pada pendiriannya semula.

Tahun itu Zhang Shi-xuan berusia 17 tahun dan direkomendasikan untuk mengikuti ujian di ibukota, seluruh peserta yang mendapat rekomendasi berjumlah lebih dari 20 peserta. Saat itu ada seorang peramal menunjuk ke arah Zhang Shi-xuan sambil berkata : "Tahun ini peserta yang lulus ujian sarjana negara adalah anak muda ini!".

Peserta lainnya yang mendengar ocehan si peramal jadi tertawa terbahak-bahak, bahkan membantah ramalannya. Si peramal berkata : "Urusan menulis artikel pemerintahan, saya tidak berdaya memahaminya; tetapi wajah anak muda ini penuh dengan timbunan jasa kebajikan tersembunyi, ini pasti dikarenakan dia telah melakukan kebajikan besar, maka itu barulah saya berani memastikan tahun ini dia pasti akan lulus ujian sarjana negara!"

Akhirnya ternyata benar Zhang Shi-xuan berhasil meraih gelar sarjana negara. 


Analisa Lanjutan :
Masa kini orang-orang yang memperebutkan harta warisan dan tidak mempedulikan jalinan persaudaraan, jumlahnya sangat banyak! Bahkan saudara kandung juga serupa, apalagi bila saudara tiri maka akan lebih parah lagi! Andaikata saudara sepupu setelah pembagian harta warisan, maka hubungan persaudaraan akan kian berjarak dan menjauh! Siapa yang akan serupa dengan Zhang Shi-xuan?

Orang tempo dulu berkata : "Menindas saudara sendiri berarti telah menindas ayahbunda! Menindas saudara sepupu berarti menindas leluhur!". Oleh karena akar pohon bila ada yang cacat, maka ranting pohon tersebut pasti juga akan cacat!






集福消災之道
(二十)


友悌。


故事四:

宋朝的鄭德珪、鄭德璋兄弟兩人,天性都非常的友愛孝順,兩人一齊讀書,晚上也同睡在一塊兒。而德璋的個性剛正不阿,做人不夠圓融,得罪了仇家;仇家就設計陷害德璋,因而被官府判了死罪,馬上官兵就要來家裡拘捕德璋了。德珪知道弟弟是被人陷害的,感到十分的悲傷,就假裝對弟弟說:「他們本來是要陷害我的,跟你無關啊!我只要前往官府自首,那麼真相就會大白了;如果你去官府投案,那就死定了啊!」德珪說完了,就前往官府去自首,德璋就追趕著哥哥,兄弟兩人在路上相持不下,頓足抱頭大哭;都搶著要先去官府受死。德珪就默默的設計,阻止拖延弟弟前往官府受刑,自己就趁著黑夜先離去了。德璋第二天發現哥哥不見了,就再追哥哥,一直追到了廣陵;這時候,德珪已經死在監獄裡面了。德璋見到了哥哥的屍首,傷心痛哭得昏死過去,一共四次。德璋把哥哥的屍體火化之後,就背著哥哥的靈骨,返家安葬;並且守在哥哥的墓旁好幾年;每次德璋哭的很傷心的時候,烏鴉和許多鳥兒都飛到德璋的身旁,聽他哭泣,而且還不吃東西。德珪的孩子年紀很小,德璋撫養哥哥的孩子,就跟自己的孩子一樣的認真。

故事五:

在魏晉南北朝的時候,北齊有位叫普明的人,兄弟之間,為了爭財產而常年累月的打官司,而且還各自的請了証人,來為自己証明;一狀告到了清河太守蘇瓊那裡。蘇太守就把普明兄弟倆召請過來,並且勸他們說:「天下難得到的就是兄弟啊!而容易得到的則是田地;假使得到了田地而失去了兄弟,你們的心會覺得怎樣呢?」蘇太守說著說著,就掉下了眼淚,在旁邊的証人看到了,也無不被太守的真誠感動得流下了眼淚;普明兄弟倆則互相叩頭認錯,彼此退步禮讓,再也不爭財產打官司了。

故事六:

于鐵樵先生說:「在淮陰地方有位做官的人,他有兩個兒子,從小兄弟倆就不合,兩人一年都見不到一次面。後來哥哥病危,就請人叫弟弟到病床前面,牽著他的手跟他說:『我十九歲就結婚了,年輕的時候,也沒有得到妻子的愛,到了三十八歲,父母親就過世了;所以我的晚年,也就沒有父母之愛了,這輩子相聚在一起最久的,只有我們兄弟二人;但是我們倆一生都不合,我今天才開始感到後悔和覺悟;然而我的一生,卻是快要走完了啊!』聽到了這位即將死去的哥哥,對他弟弟所講的話,聽到的人也應該會有所感動吧!」

故事七:

張士選是五代時候的人,從小父母就過世了;等到他長大了,長輩中,只剩下叔父一個人了。而叔父卻有七個兒子,有一天叔父就對張士選說:「你現在已經長大成人了,我應當將家產一分為二,你一分,我一分,你覺得這樣分公平嗎?」張士選說:「叔父,我不忍心您家的七個兒子,七個人才共分一分的財產,叔父您可以把家產分做八分啊!」叔父堅持不肯這樣分,張士選也堅持不肯那樣分。當年張士選十七歲,就被推薦進京城參加考試,同時被推薦參加考試的有廿幾位。那時有位精通相學的術士指著張士選說:「今年高中狀元的,就是這位少年啊!」同輩的人聽到了,都啼笑不已,並且還反駁相士的說法。相士說:「做文章這件事情,不是我所能夠了解的;但是這位少年,他的滿臉都充滿著積了大陰德的氣象,這一定是他做了大善事的緣故,所以我才敢斷定他今年必定高中狀元啊!」果然張士選考中了狀元。

【再析】

現在為了爭財產而不顧手足情深的人,實在是太多了啊!親生兄弟都是如此,何況是同父異母的兄弟,那就更嚴重了啊!若是堂兄弟間分財產,那麼親疏的關係就會愈分愈遠了啊!有誰能夠像張士選一樣呢?古人說:「薄待了兄弟,便是薄待了父母啊!薄待了堂兄弟,便是薄待了祖宗啊!」因為樹木的根本,若是有了虧損,那麼它的枝葉,必定會遭到損壞啊!這種追本溯源的道理,大家應該要三思啊!

【結語】

凡是恭敬順從或是欺騙違逆自己的兄弟,比起恭敬順從或是欺騙違逆其他的人,所得到禍福的果報,要強過十倍啊!若是恭敬孝順或違逆欺騙自己的父母,那麼所得到禍福的果報,就是百倍了啊!這種的道理大家都要牢記在心,自我警惕啊!


節錄自:
集福消災之道—感應篇彙編白話節本(卷二)

Gan Ying Pian Bgn 20 Penjelasan



Risalah Balasan Dan Ganjaran Setimpal
Bagian 20 ~ Penjelasan

yǒu




Penjelasan :
Sebagai abang haruslah menyayangi adiknya; sebagai adik harus menghormati abangnya.

Analisa :
Jalinan persaudaraan adalah bagaikan tangan dan kaki, sepanjang hidup hanya beberapa orang ini saja, yang juga merupakan hal yang sulit diperoleh dalam kehidupan ini! Bagi ayahbunda semua anak-anaknya adalah satu! Andaikata diantara abang, kakak dan adik ada yang tidak akur, maka hati ayahbunda akan menjadi tidak tenteram; sebaliknya bila ayahbunda melihat jalinan persaudaraan anak-anaknya akur bagaikan kaki dan tangan, maka di dalam hati mereka merasakan betapa bahagianya!

Lagi pula jalinan persaudaraan itu bagaikan tangan dan kaki, contohnya ketika kaki merasa kesakitan maka tangan akan segera mengusapnya, mana ada kaki dan tangan saling melukai dan menyakiti? Maka itu harus selalu direnungkan :  abang, kakak dan adik terlahir dari ayahbunda yang sama, maka itu sesungguhnya adalah satu! Juga bagaikan tulang dan daging yang sulit dipisahkan! Andaikata dapat memahami aturan ini, maka diantara jalinan persaudaraan, meskipun terjadi perselisihan dan pertengkaran, maka juga takkan tega untuk melanjutkannya; terhadap harta kekayaan, dengan sendirinya juga takkan memandangnya dengan berat.

Pada jaman dahulu kala ada seorang insan suci yang bernama Dashun, dia berhasil menggugah adik tirinya yang bernama Xiang, salah satu kuncinya adalah dia tidak pernah melihat kekurangan yang dimiliki adiknya. Maka itu diantara sesama saudara, hanya boleh membicarakan tentang kasih sayang dan tidak sepatutnya membahas tentang aturan; karena bila melekat pada aturan, maka akan melukai jalinan persaudaraan; dan bila sudah melukai jalinan persaudaraan maka akan jadi tak tahu aturan!

Cheng-zi yang hidup pada masa Dinasti Song, ada yang bertanya padanya : "Dalam berbakti pada abangku, sudah semaksimal mungkin memenuhi kewajibanku sebagai seorang adik, tetapi juga tidak bisa membuat abang merasa gembira, abang tetap tidak menyukaiku, jadi apa yang harus kulakukan?"  

Cheng-zi menjawab : "Anda berbakti pada abangmu, seharusnya mempunyai hati yang berbakti dan hormat, bahkan harus tulus sepenuhnya, jangan karena hati tidak nyaman maka ada niat untuk mengeluh pada orang lain".

Orang ini bertanya lagi : "Jadi bagaimana abang harus memperlakukan adiknya?"

Cheng-zi menjawab : "Abang harus menyayangi adik!"





集福消災之道
(二十)


友悌。


【解釋】

做人家哥哥的,必定要友愛弟弟;做人家弟弟的,必定要尊敬哥哥。

【分析】

兄弟如手足,在一生當中,就這幾個人了,也是人生最為難得的事了!自父母的眼裡看來,兄弟原來是一體的啊!假使兄弟之間,稍微有了不和的話,那麼父母的心,就會感到不安了;而父母若是看到兄弟相愛情同手足,內心不知道會有多麼的快樂啊!而且兄弟稱為手足,則彼此之間就痛癢相關,應該要互相的保護扶持,那裡有手足自己在互相干擾打鬥的道理呢?所以要時時的念著:兄弟同是一個父母生出來的,本來就是同為一體的啊!就像是骨頭和肉一樣,很難解的開啊!若是明白道理,兄弟之間,就算是遇到些誤會爭吵,自然就會不忍心的再爭吵下去;對於錢財,也就自然看得輕了。法昭禪師曾經作了一首偈子說道:「同氣連枝各自榮,些些言語莫傷情;一回相見一回老,能得幾時為弟兄。弟兄同居忍便安,莫因毫末起爭端;眼前生子又兄弟,留與兒孫作樣看。」

袁氏世範說:「父親愛兒子,哥哥愛弟弟,這是做父兄的本分,不必去責備兒子或弟弟一定要順著;那麼做兒子的,或是做弟弟的,本來就應該要愛自己的父親和哥哥;但也不必去責備父親或哥哥,對自己一定要慈愛,只要各自的盡了自己應該盡的本分,那麼彼此責難對方的這種毛病,自然就會沒有了。而且要嚴禁家人或佣人居間傳話,以免發生誤會;而妻子的話,多少帶有感情的成分;雖然中聽,也不要聽;那麼離間父子兄弟感情的話,自然也就沒有了;縱然有,也是行不通的啊!」

王陽明先生曾說:「古代的聖人大舜,他能夠感化大象來替他耕田,其中的秘訣,就是他不去看象的缺點」,所以骨肉之間,只應該講情,不應該講理;因為執著了理,便會傷到了情;而傷到了情,就是非理了啊!宋朝的程子,有人問他說:「我事奉哥哥,已經盡了我做弟弟的道理,但是卻得不到哥哥的歡心,那麼我該怎麼辦呢?」程子回答說:「你事奉哥哥,應當要心存孝敬,而且要至誠懇切才行,不可以心存委曲,向人訴苦。」那人又問:「那麼哥哥應該要如何的對待弟弟呢?」程子說:「做哥哥的,應該要對弟弟友愛,才是做哥哥的道理。」

節錄自:
集福消災之道—感應篇彙編白話節本(卷二)

Gan Ying Pian Bgn 19 Cerita Tentang Bakti



Risalah Balasan Dan Ganjaran Setimpal
Bagian 19 ~ Cerita Tentang Bakti

zhōng
xiào




Cerita 1 :
Penduduk Taihe yang bernama Yang Fu, berpamitan pada ibundanya yang sudah lanjut usia, sendirian pergi berkelana ke Provinsi Sichuan, bermaksud mengunjungi Master Wu Ji; di tengah perjalanan dia bertemu dengan seorang Bhiksu tua yang bertanya pada Yang Fu : "Anda mau ke mana?".  Yang Fu menjawab : "Saya hendak ke Sichuan mengunjungi Master Wu Ji".

Bhiksu tua berkata lagi : "Daripada mengunjungi Master Wu Ji lebih baik pergi bertemu Buddha!". Yang Fu bertanya : "Dimana Buddha berada?" Bhiksu tua menjawab : "Asalkan anda mengikuti jalur jalan pulang ke rumah, anda akan melihat seorang yang mengenakan mantel kuning dan memakai sandal terbalik, orang ini adalah Buddha!"

Setelah mendengarnya, Yang Fu bergegas menempuh jalan pulang ke rumah. Sesampainya di rumah malam sudah larut; Yang Fu mengetuk pintu; saat itu ibundanya begitu mendengar suara ketukan pintu dan suara panggilan putranya, saking gembiranya dan ingin cepat-cepat keluar membukakan pintu, buru-buru mengenakan mantel warna kuning, mungkin akibat terlalu memikirkan putranya, ingin cepat-cepat bertemu sehingga sandalpun dipakainya terbalik; begitu pintu terbuka, Yang Fu melihat kondisi ibundanya, yakni Buddha seperti yang digambarkan oleh Bhiksu tua; oleh karena itu mendadak dia jadi tercerahkan.  

Sejak itu dia berada di rumah menjaga ibundanya, bahkan menulis penjelasan pada "Klasik Bakti"; ketika Yang Fu sedang menulis penjelasan "Klasik Bakti", cairan tinta yang digunakan sudah akan mengering, tiba-tiba wadah tinta akan terisi kembali dengan sendirinya. Semua orang beranggapan bahwa ini karena hati bakti Yang Fu telah menggugah Langit dan Bumi sehingga memperoleh mukjizat tersebut!


Cerita 2 :
Cui Mian memiliki sifat berbakti, sepasang mata ibundanya sudah tidak dapat melihat, dia merasa kehilangan kebahagiaan sebuah keluarga, maka  itu dia mencari tabib sakti ke mana-mana, untuk menyembuhkan mata ibundanya; dia menjaga bundanya selama 30 tahun, sangat berbakti dan menghormati; hingga waktu malam tiba dia juga takkan melepaskan topi dan jubahnya.

Setiap hari perayaan tiba atau mendapati ada panorama yang indah, dia pasti akan memapah ibundanya untuk pergi menikmatinya, bercengkerama dan berkelakar dengan para penduduk, sehingga bunda melupakan kebutaan yang dideritanya.

Kemudian setelah ibundanya meninggal dunia, Cui Mian bersedih hati hingga muntah darah; bahkan demi sang bunda, dia berikrar bervegetarian sepanjang hidup; dia menyayangi abang dan kakaknya serupa dengan menyayangi ibundanya, dia menyayangi keponakannya melebihi anak kandung sendiri.

Gaji yang dia peroleh dibagikan kepada sanak keluarga, disamping itu dia juga berkata : "Ibunda telah meninggal dunia dan saya tidak berdaya menunjukkan baktiku pada bunda, saya percaya bahwa semasa hidupnya, yang selalu dikhawatirkan oleh bunda tak lain adalah abang, kakak, keponakan dan kemenakanku; maka itu saya harus menjaga mereka dengan baik, dengan demikian mungkin bisa menghibur ibunda di Surga!"

Akhirnya karir Cui Mian di kekaisaran semakin menanjak, sementara putranya sendiri berhasil menjadi perdana menteri yang bijak. Orang seperti Cui Mian sungguh merupakan putra yang berbakti! Ketika ibunda masih hidup, dapat mengerahkan segenap kemampuan membuat hati orang tua menjadi bersukacita, setelah ibunda meninggal dunia, dapat mewujudkan niat hati orang tua; namun di dunia ini juga ada insan yang setelah menjadi kaya raya dan memiliki kekuasaan, malah memperlakukan sanak keluarga dan sanak saudara serupa dengan orang asing; menindas ayahbunda dan mertua sendiri; melihat Cui Mian yang amat berbakti, apakah tidak merasa malu?          

   
Cerita 3 :
Lu Sheng, sejak kecil telah kehilangan ibunda, amat berbakti pada ayahnya. Sang ayah yang sudah lanjut usia, malam hari sering terbangun buang air kecil, Lu Sheng menemani ayahnya tidur, untuk memudahkan dirinya menjaga ayahnya. Setiap malam Lu Sheng akan terbangun empat hingga lima kali, untuk mengurus ayahnya buang air kecil.

Suatu tahun terjadi kekacauan, kelompok bandit gentayangan di mana-mana, Lu Sheng menggendong ayahnya melarikan diri dan mengungsi ke gunung; di tengah perjalanan bertemu dengan kelompok bandit; tetapi bandit-bandit tersebut malah tergugah oleh hati bakti Lu Sheng, sehingga tidak menyulitkan ayah dan anak.


Cerita 4 :
Pada masa Dinasti Tang hiduplah seorang yang bernama Li Jiong-xiu, sifatnya amat berbakti, ibundanya berasal dari keluarga yang miskin, sementara istrinya suka memarahi pembantu di rumah, mendengar hal ini hati ibunda Li sungguh merasa tidak nyaman, sehingga jadi tidak bahagia. Oleh karena alasan ini Li Jiong-xiu lalu menceraikan istrinya.

Ada orang yang bertanya padanya : "Alasan apa sebenarnya yang membuatmu tega menceraikan istrimu?". Li Jiong-xiu menjawab : "Tujuan saya menikahi istriku adalah supaya dia menjaga ibundaku! Andaikata istriku tidak sanggup memperlihatkan wajah ramah dan mengerahkan segenap kemampuan untuk menjaga mertua perempuannya, maka menantu seperti ini, bagaimana saya bisa menahannya di rumahku?"

Hati bakti Li Jiong-xiu telah menggugah Langit; sehingga kaisar menurunkan titah untuk mencatat kisah baktinya.


Cerita 5 :
Pada masa Dinasti Han, di Provinsi Zhejiang ada seorang anak gadis yang bernama Cao'E, ayahnya bernama Cao Xu. Pada bulan ke-5 hari ke-5, yang juga merupakan hari perayaan festival perahu naga, sang ayah sedang mendayung perahu di sungai, karena kurang hati-hati dia tercebur ke dalam sungai dan mati tenggelam; Cao'E yang waktu itu baru berusia 14 tahun, berusaha mencari jasad ayahnya di tepi sungai, tetapi tidak menemukan hasil; Cao'E lalu menangis selama 7 hari 7 malam di tepi sungai; akhirnya dia menceburkan diri ke dalam sungai, lima hari kemudian, masyarakat menemukan jasad Cao'E yang menggendong jasad ayahnya terapung di permukaan sungai. Melihat peristiwa ini penduduk merasa amat tercengang dan panik, melalui bupati setempat, kejadian ini dilaporkan ke istana kekaisaran, kaisar lalu menurunkan titah untuk mencatat kisah bakti Cao'E, bahkan mendirikan sebuah kuil di tepi sungai untuk Cao'E, hingga kini Cao'E masih disembahyangi orang banyak yang menghormatinya dengan mendalam.

Cerita 6 :
Pada masa Dinasti Song terdapat seorang yang bernama Wu Xiao-fu, suaminya mati dalam usia muda, juga tidak mempunyai anak; tetapi dia amat berbakti pada mertua perempuannya. Mertua perempuannya sakit-sakitan dan penglihatannya juga terganggu; terpikir akan menantunya yang masih berusia muda sudah harus menjanda, maka itu dia mendesak agar menantunya bersedia menikah lagi; Wu Xiao-fu jadi menangis tersedu-sedu sambil berkata : "Sejak dulu hingga sekarang, seorang wanita takkan melayani dua suami; saya seharusnya menjaga mertuaku dengan baik, harap bunda jangan khawatir".

Wu Xiao-fu bekerja pada tetangganya baik menyelesaikan kerajinan tangan maupun pekerjaan kasar juga dilakukannya, memperoleh sedikit uang untuk menghidupi mertuanya. Bila ada yang memberinya makanan yang lezat, maka dia akan membungkusnya dan membawa pulang buat mertuanya.

Suatu hari dia masih belum selesai menanak nasi tetapi tetangga sudah tidak sabaran memintanya untuk keluar membantu; oleh karena mertuanya khawatir nasi yang ditanak akan gosong maka cepat-cepat dipindahkan ke wadah lain, tetapi karena penglihatan sang mertua yang kabur, sehingga nasi tersebut malah dipindahkan ke tong sampah.     

Ketika Wu Xiao-fu pulang dan melihat hal ini, dia tidak mengatakan apa-apa, malah bergegas memasak nasi lagi buat mertuanya; lalu mengambil nasi di tong sampah, membersihkannya dengan air, kemudian dipanasi dan dimakannya sendiri.

Suatu malam dia bermimpi ada dua Kumara (bocah) yang berjubah hijau, mengendarai awan dan turun hingga di hadapannya, tangan mereka menggenggam kartu simbol kebesaran, lalu berkata : "Kami datang untuk menyampaikan titah Kaisar Langit, mengundang Wu Xiao-fu untuk menghadap".

Wu Xiao-fu bertemu dengan Kaisar Langit, Kaisar Langit berkata padanya : "Anda hanya seorang wanita dusun semata, tetapi begitu tulus dan berusaha dengan segenap hati untuk menjaga dan menghidupi mertua, sungguh membuat orang jadi salut! Maka itu terimalah anugerah sejumlah uang ini dan bawalah pulang untuk menghidupi mertua; mulai sekarang dan selanjutnya, anda tak pelu bersusah payah lagi melakukan pekerjaan kasar untuk mencari nafkah". Setelah menyelesaikan ucapanNya, Kaisar Langit memerintahkan dua Kumara berjubah hijau untuk membawa Wu Xiao-fu pulang kembali.

 BegituWu Xiao-fu bangun dari mimpinya, menemukan sejumlah uang di samping tempat tidurnya, bahkan setelah uang tersebut habis digunakan, maka di samping tempat tidurnya akan muncul uang lagi, demikianlah kejadian ini berulang berkesinambungan tak terputus!


Cerita 7 :
Yang Shi-qi adalah pejabat penting Dinasti Ming, mendapat kepercayaan dari kaisar dan diangkat menjadi perdana menteri; tetapi putranya yang bernama Yang Zi-ji, malah mengandalkan kekuasaan ayahnya dan tidak ada kejahatan yang tidak diperbuatnya; sementara itu Yang Shi-qi amat memanjakan putranya, tidak mengetahui bahwa putranya berani berbuat apa saja di luar sana; hingga akhirnya suatu hari ada orang yang mengadu langsung ke hadapan kaisar bahwa Yang Zi-ji telah membunuh sepuluh nyawa manusia;  kemudian kaisar menitahkan badan hukum untuk mengadili perbuatan Yang Zi-ji, bahkan memberi perhatian dan bertanya kepada Yang Shi-ji : "Perdana Menteri, putra anda telah melanggar tata krama keluarga, juga berani melanggar hukum negara, Beta tidak berani mengandalkan hubungan pribadi, maka itu anda harus membuat keputusan dengan seadil-adilnya!"

Dengan terpaksa Yang Shi-qi menjatuhkan hukuman mati bagi putranya. Pamor Yang Shi-qi oleh karena perbuatan putranya menjadi jatuh. Yang Shi-qi sebagai seorang terpelajar sampai karirnya memuncak menduduki posisi perdana menteri yang begitu agung, mengurus pemerintahan negara; tetapi putranya Yang Zi-ji malah mengandalkan status dirinya sebagai putra perdana menteri, melanggar hukum dan dipenggal; merusak nama baik keluarga, memalukan ayahbunda!


Cerita 8 :
Setiap pagi Zhang Yi akan membangkitkan ketulusan berdoa pada Langit, bertobat atas perbuatannya di masa lalu. Suatu kali arwah Zhang Yi tiba-tiba digiring ke Neraka; Hakim segera mengeluarkan seluruh buku catatan kejahatan yang diperbuatnya selama hidup, untuk dilihat Zhang Yi, buku-buku berwarna hitam adalah mencatat segala perbuatan jahatnya; tetapi oleh karena dia bertobat dengan tulus, maka semua itu jadi terhapus; hanya tersisa satu kasus kejahatannya yang tidak bisa terhapus.

Zhang Yi bertanya pada hakim : "Satu kasus kejahatanku yang tidak bisa terhapus tersebut, apa isinya?". Hakim menjawab : "Ini adalah ketika kamu masih berusia kecil, oleh karena ayahmu memarahimu, kamu bukan saja tidak mau mengaku bersalah, malah tersinggung dan memperlototi ayahmu".

Saat itu Zhang Yi barulah menyadari bahwa dosa akibat tidak berbakti tidak bisa dihapus melalui pertobatan! 

     
Cerita 9 :
Luo Gong saat masih kuliah, demi meraih masa depan gemilang, maka itu dia berdoa memohon pada Malaikat, supaya karirnya lancar-lancar saja. Suatu malam dia bermimpi Malaikat berkata padanya : "Luo Gong, anda telah menyinggung perasaan Raja Yama, sebaiknya kamu cepat pulang ke rumah, jangan lagi bertanya tentang masa depanmu!"

Luo Gong tidak mengerti maksud Malaikat, lalu memberi hormat pada Malaikat dan bertanya : "Oh Malaikat! Saya tidak mengerti mengapa anda menyuruhku cepat pulang rumah, jangan lagi menanyakan masa depan?"

Malaikat menjawab : "Ayahbundamu meninggal dunia sudah lama, tetapi sampai sekarang malah tidak kamu urus pemakamannya, ini adalah perbuatan durhaka, Raja Yama telah mencatat dosamu, kamu akan segera dijatuhi hukuman! 

Luo Gong berkata : "Tetapi saya masih mempunyai abang! Seharusnya dia yang harus bertanggungjawab mengurus pemakaman ayahbunda! Mengapa Raja Yama malah menyalahkan diriku seorang saja?".

Malaikat menjawab : "Abangmu hanyalah orang awam yang sibuk bekerja, sementara kamu adalah seorang terpelajar, memahami ajaran insan suci dan bijak; maka itu Raja Yama hendak menghukum dirimu!"

Tahun itu juga Luo Gong meninggal dunia!











集福消災之道
(十九)


忠孝。


故事一:

太和人楊黼,辭別了家中的老母親,獨自的前往四川,去拜訪無際大師;在路上遇到了一位老僧問楊黼說:「到那兒去啊?」楊黼回答說:「我去四川拜訪無際大師。」老僧說道:「你去拜訪無際大師,還不如去見佛啊!」楊黼就問:「那麼佛在那裡呢?」老僧說:「你只要回家,就會看到一位肩上披著黃色衣服,倒穿著木屐的人,那人就是佛啊!」楊黼聽了之後,就馬上的趕回家去。當楊黼回到家的時候,已經是夜深人靜門已關了;楊黼就敲著門,在外面等候著;這時候,他的老母親一聽,是兒子在外面叫門的聲音,就喜出望外、急急忙忙的,隨手拿了一件黃色的衣服披在肩上,大概是想念兒子太過興奮,跑出去開門的時候,連木屐都穿反了;楊黼一見到母親這個樣子,就是老僧所講的佛的樣子完全一樣;因此而突然的驚醒覺悟了。從此以後就留在家中竭力的孝敬母親,並且還為孝經做了好幾萬字的註解;楊黼在為孝經做註解的時候,硯台的水快用乾了,忽然之間,硯台裡面的水,卻又盈滿了。別人都認為:這是因為楊黼的孝心,感動了天地所得到的感應啊!

【嘉言】

彌勒菩薩說:「堂上有佛二尊,惱恨世人不識;不用金彩裝成,非是栴檀彫刻;即今現在雙親,就是釋迦彌勒;若能誠敬得他,何用別求功德。」

故事二:

崔沔天性至孝,他的母親雙眼失明,他就傾家蕩產到處求醫,為母親治療眼睛;事奉母親三十年,非常的恭敬小心;連晚上都不把帽子和外衣脫下來。每當遇到了佳節,或是美景良辰,他一定扶著老母親赴宴,和大家有說有笑,使母親忘掉失明的痛苦。後來母親過世了,崔沔傷心到吐血;並且發心為母親終身吃素;他愛哥哥姊姊,就跟愛母親一樣,他對外甥姪子,好過對自己的孩子。所得的薪俸,都分給了親人,並且說:「母親既然已經過世了,我沒有辦法表達對母親的孝心,想她老人家在生的時候,最掛念的,就是哥哥、姊姊、外甥和姪子,這四五個人了;所以我都要好好的厚待他們,這樣做,或許可以安慰母親在天之靈啊!」後來崔沔官做到了中書侍郎,他的兒子佑甫,為賢明的宰相。唉!像崔沔這種人實在是位真正的孝子啊!母親在生的時候,能夠盡力的使老人家歡心,母親過世以後,又能夠完成他老人家的心願;然而世上卻有身居富貴有錢有勢,對待自己的同胞兄弟姊妹,卻和陌生的路人一樣;刻薄自己的雙親、岳父母,就如同對待普通的客人一般;看到崔沔這樣的孝心,能夠不感到慚愧嗎?

故事三:

呂升從小就失去了母親,事奉父親非常的孝順。父親因為年歲很大,夜裡常會起來小便,呂升就與父親同睡,以便就近照料。呂升每天晚上都要起來四五次,照顧年邁的父親小便。有一年遇到了兵荒馬亂,盜匪遍地橫行,呂升就背著父親逃入了山中;在半途中卻遇到了強盜;但是強盜因為被呂升的孝心感動,而沒有為難他們父子。呂升的父親,平時很喜歡吃一種滋味香甜的杏子,呂升為此還特別在家的附近種植了許多的杏樹;但是種植的杏子,卻被鄰居給強佔去了;呂升無奈,就寫了篇疏文稟告神明,向神求助;神明就譴責強佔呂升杏地的鄰居,發背告諭他說:「你要立刻把強佔的杏地還給孝子呂升!」直到這強佔杏地的鄰居,把杏地還給了呂升,神明才停止發背。

故事四:

唐朝的李迥秀,天性至孝,他的母親出身貧賤,而他的妻子經常罵家中的婢女,李迥秀的母親聽起來,心中感到很不快樂。李迥秀為了這個緣故,就把妻子給休了。有人就問他:「到底為了什麼緣故,把妻子給休掉了呢?」他說:「我娶妻的目的,就是要妻子事奉母親啊!如果我的妻子不能夠和顏悅色盡心盡力的事奉婆婆,那麼這種的媳婦,我怎麼可以留她在家呢?」李迥秀的孝心,感動了上天;因而在他家的堂前,生出了芝草。中宗皇帝還特別頒下了詔書,表彰他的孝行。

故事五:

漢朝的時候,浙江上虞有位女孩子名叫曹娥,他的父親叫曹盱,是一位巫師。在五月五日端午節的那天,他乘船在江上迎神,一不小心就墜入江中淹死了;曹娥那年才十四歲,她沿著江邊尋找父親的屍體,但是卻都遍尋不著;曹娥就在江邊哭泣了七天七夜;最後她就跳入了江中,經過了五天,曹娥背著父親的屍體,兩人一同浮出了江面;遠近的人看到之後,都感到十分的震驚;上虞縣的縣令度尚,就把這件事情奏報朝廷;皇帝因而下詔表彰曹娥的孝行,並且為曹娥在江邊建立了一個祠,曹娥至今仍然為人們所祭拜敬重。

故事六:

宋朝的吳孝婦、丈夫早死,又沒有兒子;但是她事奉婆婆非常的孝順。婆婆年老而眼睛有病;想到自己的媳婦太孤單了,就想招一個義子為媳婦成親;吳孝婦就哭著向婆婆說:「自古以來,烈女是不事二夫的;我自然應當竭力的奉侍婆婆,還請婆婆放心。」吳孝婦就為鄰居做些手工粗活,賺些錢來養婆婆。或有人送她好的食物,她就帶回家給婆婆吃。有一次她煮飯還沒有煮熟,鄰居的媽媽有急事喊她出去幫忙;婆婆擔心飯煮的太熟會煮焦了,就把它放在盒子中;因為眼睛看不清楚,就把飯放進了垃圾桶裡面。吳孝婦回來以後,看到了也不去問,就趕快的向鄰居借些飯來給婆婆吃;然後再用水把弄髒的飯洗乾淨,蒸過以後自己再吃。有一天她忽然夢到兩位穿著青色衣服的童子,駕著雲來到她的面前,手裡拿著符牒說道:「我們是奉了上帝的玉旨,召吳孝婦晉見。」吳孝婦見到了上帝,上帝對她說:「你只是一個村婦,能夠如此勤苦盡心的事奉婆婆,實在是值得令人尊敬啊!因此特別賞賜你一千文錢,拿回家中供養婆婆;從今以後,你再也不必去做粗活手工賺錢養家了。」說罷就命兩位青衣童子,將吳孝婦送回。吳孝婦一夢醒來,發現床頭果然放著有一千文的錢;而且用完之後,床頭就又再會有一千文的錢,如此週而復始的,綿綿不絕呢!

故事七:

明朝的楊士奇,在朝廷中,是屬於元老級的重臣,備受皇帝的恩寵,擔任宰相的職位;但是他的兒子楊子稷,卻是靠著父親的勢力而無惡不做;而楊士奇又非常溺愛他的兒子,不知道兒子在外面為非作歹;直到有人在皇帝面前,控告楊子稷已經犯下殺了數十條人命的大罪;皇上於是將楊子稷移付司法審判,還特別頒旨慰問楊士奇說:「愛卿啊!你的兒子既然違背了家訓,又干犯了國法;朕不敢私心,愛卿,你就秉公處理吧!」楊士奇不得已就把兒子判了死刑。楊士奇的聲望,因為兒子不肖,犯下死罪論斬而大受損害。楊士奇以一個讀書人而做到了宰相那樣崇高的地位,處理國家大政;然而楊子稷卻是以宰相兒子的身分,犯罪而被處死刑;敗壞了家聲,更羞辱了父母;可說是死有餘辜啊!那些依靠著父親勢力而橫行的驕貴子弟們,看到楊子稷的下場,能不好好的自我警惕嗎?

故事八:

張義每天清晨,都非常虔誠的向上天禱告,懺悔自己以往所犯下的罪過。有一天,張義的魂魄,忽然被鬼卒攝到了陰間;判官就出示了記載他生平所犯罪過的惡冊子給他看,黑簿中記載了他以往所犯下的罪惡;但是因為他虔誠的懺悔,都已經勾除了;惟獨只剩下一件惡事沒有勾除掉。張義就問判官:「剩下那件沒有勾除的,是什麼樣的罪過啊?」判官說:「這是你小的時候,因為父親責罵你,你沒認錯,反而生氣的睜大著眼睛,回頭瞪你父親一眼。」張義聽了才知道,不孝的罪過,是不通懺悔啊!

故事九:

羅鞏在做太學生的時候,經常為了前程,向神明祈禱,希望自己的仕途順利,前程似錦。有一天晚上他夢到神跟他說:「羅鞏,你已經得罪了冥王,最好趕快回家,別再問前程了啊!」羅鞏不明白神的意思,就再向神叩問說:「神啊!我不明白您為何要我趕緊回家,別再問前程了呢?」神回答說:「你的父母過世了很久,你卻延誤至今不埋葬他們,這是大不孝的行為,冥王已經錄下你的罪過,馬上就要懲罰你了啊!」羅鞏說:「我有哥哥啊!他應該負責埋葬父母啊!為何冥王獨獨的怪罪於我呢?」神說:「你哥哥不過是位庸庸碌碌的凡夫俗子,所以不值得怪罪他,而你是個讀書人,明白聖賢的道理;所以冥王要責罰你啊!」說也奇怪,羅鞏這一年就死了!

感應篇彙編白話節本卷一終

節錄自:
集福消災之道—感應篇彙編白話節本(卷一)